Gunung Lewotobi Laki-Laki Meletus Semburkan Abu Setinggi 8 Km

Gunung Lewotobi meletus

Aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi Laki-Laki di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali meningkat secara signifikan. Gunung api tersebut dilaporkan meletus dahsyat pada Rabu (15/10/2025) pagi pukul 09.21 WITA, dengan melontarkan kolom abu setinggi 8 kilometer dari kawah.

Erupsi ini terjadi setelah status aktivitas gunung dinaikkan menjadi Level IV (Awas) oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Kronologi Erupsi dan Laporan Petugas

Berdasarkan laporan dari Pos Pengamatan Gunung Lewotobi Laki-Laki, erupsi yang terjadi pagi ini terekam seismograf dengan amplitudo maksimum mencapai 47,3 milimeter dan durasi 3 menit 1 detik. Kolom abu tebal teramati bergerak mengarah ke utara dan barat laut dari pusat erupsi.

Salah satu petugas pos pengamatan, Emanuel Rofinus Bere, menyatakan erupsi tersebut disertai suara dentuman yang kuat.

“Erupsi disertasi suara dentuman kuat. Letusannya masih berlangsung saat laporan sedang dibuat,” kata Rofinus dalam keterangan resminya.

Dari pernyataan tersebut, ditegaskan bahwa saat laporan awal dibuat, aktivitas erupsi masih terus berlanjut, menunjukkan intensitas yang tinggi. Sebelumnya, pada dini hari pukul 01.35 WITA, gunung setinggi 1.584 mdpl ini juga mengalami erupsi kuat yang menyemburkan abu vulkanik hingga ketinggian 10 kilometer dari puncak kawah dengan durasi lebih lama, yakni 9 menit 6 detik.

Status Awas dan Rekomendasi Keselamatan

Menyikapi peningkatan aktivitas vulkanik yang drastis, PVMBG telah menaikkan status Gunung Lewotobi Laki-Laki ke Level IV (Awas) sejak Selasa malam (14/10/2025). Status ini merupakan level kewaspadaan tertinggi, yang mengindikasikan potensi bahaya erupsi yang lebih besar dan mengancam permukiman.

Sehubungan dengan itu, PVMBG mengeluarkan rekomendasi tegas kepada masyarakat sekitar dan wisatawan. Warga dilarang keras memasuki atau melakukan aktivitas apapun dalam radius 6 kilometer dari pusat erupsi. Selain itu, ditetapkan pula zona bahaya sektoral yang lebih luas, yakni sejauh 7 kilometer ke arah barat daya, utara, dan timur laut, untuk mengantisipasi potensi lontaran material vulkanik dan awan panas.