Gerhana Matahari Cincin 2026: Fenomena Langka Jelang Bulan Ramadan

Gerhana Matahari Cincin 2026: Fenomena Langka Jelang Bulan Ramadan

Fenomena alam menakjubkan berupa gerhana matahari cincin atau ‘cincin api’ dipastikan akan menghiasi langit pada 17 Februari 2026 mendatang. Momen langka ini terasa sangat spesial karena terjadi tepat satu hari sebelum perkiraan awal ibadah puasa Ramadhan 1447 H.

Pencapaian astronomis ini akan mencapai puncaknya pada pukul 19.12 WIB atau sekitar pukul 07.12 waktu EST. Pada fase tersebut, bulan akan menutupi sekitar 96 persen piringan matahari sehingga menyisakan tepian cahaya yang menyerupai cincin emas.

Namun demikian, fase annular yang menciptakan efek visual indah ini hanya dapat disaksikan sepenuhnya oleh pengamat di jalur sempit sepanjang 4.282 kilometer. Area pengamatan langsung tersebut memiliki lebar sekitar 616 kilometer yang melintasi wilayah-wilayah tertentu di permukaan bumi.

Lokasi Pengamatan dan Akses Daring

Mengingat hal itu, fase cincin api yang sempurna kali ini sayangnya hanya akan terlihat secara eksklusif dari wilayah terpencil di benua Antartika. Kondisi geografis yang ekstrem membuat jumlah orang yang bisa menyaksikannya secara langsung menjadi sangat terbatas tahun ini.

Selain itu, masyarakat di wilayah Afrika bagian selatan serta kawasan selatan Amerika Selatan masih berpeluang melihat gerhana dalam bentuk parsial atau sebagian. Bagi warga di luar wilayah tersebut, siaran langsung secara daring menjadi pilihan utama untuk tetap bisa menikmati fenomena ini.

Lebih lanjut, mengutip laman Space, penyelenggara teknis saat ini masih mempersiapkan detail akses streaming resmi bagi publik global. Detail informasi mengenai tautan siaran langsung tersebut baru akan diumumkan secara lengkap mendekati hari pelaksanaan peristiwa tersebut.

Sains di Balik Fenomena Cincin Api

Secara teknis, gerhana ini terjadi ketika bulan berada pada posisi sejajar dengan matahari dan bumi saat memasuki fase bulan baru. Namun, karena posisi bulan sedang berada lebih jauh dari bumi, ukurannya tampak sedikit lebih kecil dari piringan matahari.

Hal itulah yang menyebabkan bayangan bulan tidak mampu menutup cahaya matahari sepenuhnya seperti pada gerhana total. Sisa cahaya di bagian tepi inilah yang kemudian membentuk formasi visual ikonik yang sering disebut oleh para astronom sebagai cincin api.

Oleh karena itu, kemunculan fenomena ini seringkali dianggap sebagai pengingat akan keajaiban alam semesta bagi masyarakat luas. Kehadirannya yang berdekatan dengan momen religius bulan suci tentu menambah kesan mendalam bagi jutaan orang yang menantikannya.

Jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan keajaiban kosmik ini melalui layar gawai Anda meskipun jarak memisahkan kita dari lokasi pengamatan utama. Semoga fenomena ini memberikan semangat baru bagi kita semua dalam menyambut datangnya bulan penuh berkah.

Mau berita terbaru? Ikuti Jurnalzone.id di Google News Sekarang!