JURNALZONE.ID – Miliarder dan pemilik X, Elon Musk, kembali memicu kontroversi di kancah politik Inggris dengan menyerukan “perubahan pemerintahan yang revolusioner”. Pernyataan ini disampaikannya saat berbicara secara virtual dalam sebuah unjuk rasa anti-imigrasi sayap kanan di London pada hari Sabtu (13/9/2025) waktu setempat.
Dilansir dari CNN, Musk berbicara melalui siaran langsung di hadapan massa yang diorganisir oleh aktivis sayap kanan, Tommy Robinson. Ia menegaskan bahwa reformasi besar-besaran diperlukan untuk mengembalikan kekuasaan kepada rakyat dari birokrasi yang dianggapnya tidak peduli.
“Kita harus melakukan perubahan pemerintahan yang revolusioner… Ini benar-benar menuntut semua orang untuk mengerahkan rakyat, mengambil alih, mereformasi pemerintah, dan memastikan Anda benar-benar memiliki pemerintahan yang berasal dari rakyat, oleh rakyat,” kata Musk.
Dalam pidatonya yang berapi-api, Musk juga melontarkan pernyataan provokatif lainnya. “Kekerasan akan datang kepada Anda. Anda melawan atau Anda mati,” ujarnya kepada para demonstran.
Ia juga menuduh kelompok sayap kiri sebagai “partai pembunuhan” saat merujuk pada kematian seorang aktivis politik di Amerika Serikat.
Pidato ini langsung mendapat kecaman dari pejabat Inggris. Sekretaris Bisnis Inggris, Peter Kyle, menyebut pidato Musk “sedikit tidak dapat dipahami” dan “sangat tidak pantas”. Sementara itu, Perdana Menteri Keir Starmer menegaskan bahwa Inggris dibangun di atas toleransi dan tidak akan menyerah pada mereka yang menggunakan simbol negara untuk kekerasan dan perpecahan.
Unjuk rasa itu sendiri berakhir dengan bentrokan. Kepolisian Metropolitan London melaporkan sebanyak 24 orang ditangkap dan 26 petugas polisi mengalami luka-luka, termasuk empat di antaranya cedera serius.





