Bagi sebagian mahasiswa, istilah “ekonomi deskriptif” terdengar kaku dan teoritis. Padahal, cabang ilmu ekonomi ini justru paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tanpa sadar, kamu sudah sering memakainya untuk membaca berita, mengatur uang, atau sekadar banding harga di marketplace.
Ekonomi deskriptif ibarat fotografer yang hanya memotret realitas apa adanya. Tidak ada opini, tidak ada saran, hanya data dan fakta. Fokusnya sederhana: menjawab pertanyaan “Apa yang terjadi?”.
Nah, berikut 7 contoh nyata yang mungkin pernah kamu lakukan yang sudah dirangkum oleh Jurnalzone.id dan semoga saja mudah dipahami ya.
1. Berita Inflasi di Media
Awal bulan, media menulis, “Inflasi Juli 2025 tercatat 0,25 persen.” Angka itu bukan analisis dan bukan juga saran kebijakan. Itu murni potret fakta dari BPS.
Saat kamu membacanya, kamu sudah terhubung dengan ekonomi deskriptif. Informasi ini memberi gambaran kondisi harga tanpa menjelaskan penyebabnya. Hanya data yang bisa dijadikan pegangan.
2. Mengetahui UMP di Daerahmu
Saat mencari kerja paruh waktu, kamu ingin tahu standar gaji di daerah. Kamu menemukan data resmi bahwa UMP Jawa Tengah tahun 2025 adalah Rp 2.250.000.
Angka ini tidak menilai apakah layak atau tidak, tidak juga menjelaskan dampaknya. Namun data ini penting sebagai acuan realistis bagi pekerja dan perusahaan.
3. Catatan Pengeluaran Bulanan
Uang bulanan sering terasa cepat habis. Kamu lalu mencatat semua pengeluaran lewat aplikasi keuangan. Hasilnya berupa grafik lingkaran: 45 persen makanan, 25 persen kos, 15 persen transportasi, dan sisanya hiburan.
Data itu adalah potret ekonomi deskriptif dalam skala personal. Ia menggambarkan fakta tanpa menyalahkan. Dari situ kamu bisa menganalisis dan mengambil keputusan.
4. Banding Harga di Marketplace
Sebelum membeli mouse baru, kamu survei harga di tiga toko online. Toko A menawarkan Rp 150.000, toko B Rp 145.000 dengan gratis ongkir, toko C Rp 160.000 dengan bonus mousepad.
Kegiatan membandingkan harga itu adalah ekonomi deskriptif. Kamu hanya mengumpulkan data yang memberi gambaran kondisi pasar. Dengan begitu kamu bisa memilih opsi yang paling menguntungkan.
5. Menghitung Keramaian Kedai Kopi
Saat ingin membuka kedai kopi, kamu dan teman-teman mengamati lalu-lalang orang di sekitar kampus. Siang hari ada 50 orang lewat per jam, sore bisa sampai 80 orang, mayoritas mahasiswa.
Catatan sederhana ini adalah data deskriptif. Kamu belum tahu mengapa sore lebih ramai, kamu hanya merekam faktanya. Informasi itu sangat berguna sebagai dasar menyusun rencana bisnis.
6. Cek Ongkir Sebelum Belanja Online
Kebiasaan kecil lain yang sebenarnya deskriptif adalah mengecek ongkos kirim. Kamu mungkin menemukan harga barang sama, tetapi ongkir berbeda. Catatan kecil tentang perbedaan biaya ini sudah termasuk pengumpulan data faktual. Dengan membandingkan ongkir, kamu bisa tahu total harga yang sesungguhnya.
7. Hitung Jumlah Porsi Makan Bareng
Saat makan bersama teman satu kos, kalian mencatat siapa saja yang ikut dan berapa porsi yang dipesan. Dari catatan itu terlihat bahwa lima orang bisa menghabiskan sepuluh porsi nasi goreng. Fakta ini sederhana tetapi deskriptif. Kamu tahu konsumsi aktual kelompokmu tanpa harus menilai apakah itu boros atau wajar.
Ekonomi deskriptif ternyata bukan konsep jauh yang hanya ada di buku. Ia hadir di berita inflasi, UMP, catatan pengeluaran pribadi, survei harga di marketplace, keramaian calon pelanggan, hingga ongkir belanja online dan porsi makan bareng anak kos.
Dengan terbiasa mengenali data faktual seperti ini, kamu bisa membuat keputusan lebih rasional dan cerdas. Ekonomi deskriptif bukan sekadar teori, melainkan kacamata yang membantu kita membaca realitas sehari-hari.
Artikel terkait: 10 Contoh Metode Ilmiah dalam Kehidupan Sehari-hari





