China Berhasil Ciptakan Mesin Litografi E-Beam Xizhi Pesaing Teknologi Barat

Mesin China Xizhi

JURNALZONE.ID – China dilaporkan berhasil mengembangkan mesin litografi e-beam bernama Xizhi, sebuah terobosan teknologi yang dinilai dapat mengurangi ketergantungan pada Barat. Dilansir dari detikInet pada Senin (18/8), mesin yang diciptakan oleh Universitas Zhejiang ini menjadi langkah strategis Tiongkok di tengah persaingan industri semikonduktor global dan sanksi teknologi yang diberlakukan Amerika Serikat.

Terobosan di Tengah Embargo

Pengembangan mesin Xizhi menjadi jawaban China atas embargo teknologi yang menghambat kemajuan industri chip di negara tersebut. Selama ini, perusahaan Belanda ASML, sebagai satu-satunya produsen mesin litografi EUV (Extreme Ultraviolet) di dunia, dilarang menjual peralatannya ke China. Padahal, teknologi EUV menjadi kunci produksi chip modern di bawah 7 nanometer (nm).

Mesin Xizhi yang dikembangkan Universitas Zhejiang menggunakan teknologi berkas elektron (e-beam) untuk mengetsa sirkuit pada wafer silikon. Teknologi ini dilaporkan mampu menciptakan garis sirkuit selebar 8 nm, sebuah pencapaian yang signifikan meskipun belum secepat mesin EUV ASML. Kehadiran Xizhi dianggap sangat bermanfaat untuk riset dan pengembangan chip dengan biaya yang jauh lebih terjangkau.

Ambisi Kemandirian Teknologi

Langkah China tidak berhenti pada mesin Xizhi. Raksasa teknologi Huawei juga dilaporkan sedang mengerjakan proyek ambisius untuk mengembangkan mesin litografi EUV buatan sendiri di fasilitas Dongguan. Proyek ini diperkirakan akan memasuki tahap uji coba pada 2025 dengan target produksi massal pada 2026.

Jika pengembangan ini berhasil, kolaborasi antara Huawei dengan produsen chip lokal seperti SMIC (Semiconductor Manufacturing International Corporation) berpotensi menghasilkan semikonduktor canggih. Produk tersebut diprediksi mampu bersaing langsung dengan para pemimpin pasar seperti Apple, Qualcomm, hingga Nvidia.

Sinyal Perlawanan China

Kehadiran Xizhi dan proyek EUV Huawei merupakan sinyal terbaru perlawanan China terhadap tekanan sanksi. Sebelumnya pada 2023, Huawei telah mengejutkan dunia dengan peluncuran ponsel Mate 60 yang ditenagai chip Kirin 9000S (7 nm) buatan SMIC. Produk tersebut berhasil mengembalikan konektivitas 5G yang sempat hilang akibat sanksi AS sejak 2020.

Rangkaian inovasi ini menunjukkan bahwa China tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berinovasi di bawah tekanan. Jika visi kemandirian teknologi semikonduktor ini terwujud, dominasi Amerika Serikat dan sekutunya dalam industri chip global dapat terancam secara serius.