JURNALZONE.ID – OpenAI secara mengejutkan meluncurkan fitur ChatGPT Translate yang membawa pendekatan kecerdasan buatan murni dalam menerjemahkan bahasa. Meskipun baru seumur jagung, layanan ini sudah dibekali kemampuan deteksi bahasa otomatis untuk lebih dari 50 bahasa, termasuk bahasa Indonesia.
Keunggulan utama yang menjadi pembeda terletak pada fleksibilitas pengguna dalam mengolah teks setelah diterjemahkan. Pada bagian bawah antarmuka, tersedia berbagai opsi prompt instan yang memungkinkan pengguna melakukan penyuntingan tingkat lanjut secara otomatis.
Namun demikian, fitur ini tidak hanya sekadar mengubah kata, melainkan mampu menyesuaikan nada bicara mulai dari gaya bisnis formal hingga bahasa sederhana untuk anak-anak. Pilihan lain juga mencakup penyesuaian untuk audiens akademis agar hasil terjemahan terasa lebih profesional dan kredibel.
Pencapaian ini menunjukkan ambisi OpenAI untuk menghadirkan nuansa AI-first yang unik dalam berkomunikasi global. Pengguna kini bisa mempertimbangkan konteks dan audiens secara mendalam, sebuah lompatan besar yang belum sepenuhnya dimiliki oleh alat penerjemah konvensional.
Namun di sisi lain, ChatGPT Translate harus mengakui keunggulan Google Translate yang masih mendominasi dari sisi kelengkapan fitur. Saat ini, ChatGPT belum mendukung penerjemahan dokumen, situs web, tulisan tangan, maupun percakapan secara real-time.
Selain itu, keterbatasan juga terlihat pada dukungan perangkat karena layanan ini belum hadir dalam bentuk aplikasi mandiri. Pengguna masih harus mengaksesnya melalui browser desktop atau smartphone untuk bisa menikmati fitur kustomisasi teks tersebut.
Kendati demikian, kehadiran fitur prompt dan kustomisasi ini memberikan sinyal kuat akan masa depan penerjemahan yang lebih dinamis. Jika OpenAI terus memperluas dukungan bahasa dan fitur teknisnya, posisi Google sebagai raja penerjemah global bisa saja mulai goyah.