JURNALZONE.ID – CEO OpenAI, Sam Altman, menyatakan bahwa kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berpotensi merombak ekonomi global secara radikal dengan mendorongnya ke arah spiral deflasi. Meskipun demikian, dalam sebuah diskusi terkini bersama salah satu pendiri Zerodha, Nikhil Kamath, Altman mengakui bahwa dampak jangka pendek dari Artificial General Intelligence (AGI) bisa jadi sangat tidak terduga dan membingungkan.
Menurut Altman, prinsip dasar ekonomi menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas masif dari AGI seharusnya bersifat sangat deflasioner. Dilansir dari Fortune India, ia menjelaskan bahwa kehadiran AGI memiliki potensi untuk menciptakan efisiensi yang menghilangkan kelangkaan, sehingga menciptakan tekanan penurunan harga secara besar-besaran. “Secara teori, itu seharusnya sangat deflasioner pada akhirnya,” kata Altman dalam diskusi tersebut.
Namun, ia menyoroti adanya kontradiksi untuk dampak jangka pendek. Altman mengaku bisa melihat adanya keanehan dalam ekonomi di masa mendatang.
“Saya bisa melihatnya menjadi aneh dalam jangka pendek,” ujarnya. Menurutnya, permintaan yang sangat tinggi terhadap sumber daya AI, seperti cip canggih dan infrastruktur komputasi, dapat memicu dinamika yang tidak terduga pada alokasi modal dan biaya pinjaman, bahkan berpotensi menciptakan inflasi.
Altman menambahkan bahwa dalam dunia yang secara umum mengalami deflasi, tidak semua aset akan kehilangan nilainya. Ia berspekulasi bahwa beberapa aset justru nilainya bisa meningkat drastis karena menjadi tujuan aliran modal berlebih.
“Saya tidak yakin nilainya akan turun di dunia deflasioner, saya bertaruh nilainya akan naik karena kelebihan modal harus mengalir ke suatu tempat,” tutupnya, menggarisbawahi kompleksitas transisi ekonomi di era AI.
Simak analisis mendalam lainnya tentang bagaimana teknologi membentuk tren ekonomi masa depan hanya di Jurnalzone.id.
Baca juga: ChatGPT Bisa Integrasi Gmail, Calendar, dan Contacts Via Fitur Connectors





