JURNALZONE.ID – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan peta jalan riset nasional di bidang nanoteknologi yang menargetkan kemandirian teknologi dan pengurangan ketergantungan impor. Strategi ini diungkapkan dalam Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025 di Bandung pada Jumat (8/8), sebagai langkah untuk memperkuat daya saing industri nasional di pasar global.
Empat Fokus Riset Strategis
Kepala Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNM) BRIN, Ratno Nuryadi, menjelaskan bahwa peta jalan ini menjadi panduan bagi sebelas pusat riset di bawah naungannya untuk mencapai tujuan strategis nasional.
“Ada sebelas pusat riset yang bekerja di bawah ORNM BRIN, dan kami ingin publik mengetahui arah penelitian kami. Peta jalan ini menjadi panduan dalam mencapai kemandirian teknologi,” ujar Ratno.
ORNM BRIN telah menetapkan empat fokus riset utama untuk periode 2025–2029, yaitu:
- Hilirisasi sumber daya alam tidak terbarukan.
- Material maju untuk sektor kesehatan.
- Teknologi material terbarukan.
- Material kedaulatan berbasis nanoteknologi.
- Inovasi dari Energi hingga Kesehatan
Ratno merinci bahwa pengembangan nanomaterial mencakup berbagai aplikasi, mulai dari energi, biomedis, konstruksi, lingkungan, hingga pertahanan dan keamanan. “Di bidang energi, kami mengembangkan teknologi konversi energi, termoelektrik, magnetik dan spintronik, serta katalis. Di biomedis, fokus pada material biokompatibel dan biokeramik,” jelasnya.
Salah satu inovasi konkret yang sedang dikembangkan adalah material baterai anoda dari batu bara menjadi artificial graphite untuk baterai tipe 18650, yang merupakan hasil kolaborasi dengan PT Bukit Asam. Selain itu, beberapa produk seperti silver nanoparticles (AgNPs) dan graphene oxide juga telah dipamerkan dalam Inari Expo 2024.
Mengawal Riset ke Industri
Tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah tingginya kebutuhan industri terhadap nanomaterial yang sebagian besar bahan bakunya masih dipenuhi melalui impor. BRIN menargetkan agar riset yang dihasilkan dapat dihilirisasi untuk memenuhi kebutuhan domestik.
“Ke depan, kami ingin riset dari BRIN dan perguruan tinggi dikawal hingga ke industri, sehingga kebutuhan bahan baku bisa dipenuhi dari dalam negeri,” tegas Ratno.
Melalui kolaborasi erat antara pemerintah, industri, dan akademisi, Indonesia diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri tetapi juga berpotensi menjadi eksportir nanomaterial di pasar global.
Berita BRIN: Pakar BRIN Soroti Imunitas Vaksin Menurun dan Ancaman Long Covid





