JURNALZONE.ID – Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Erma Yulihastin, mengungkapkan hasil proyeksi iklim terbaru yang menunjukkan adanya peningkatan signifikan fenomena cuaca ekstrem di wilayah Sumatra, Kalimantan, dan Jawa selama musim hujan hingga tahun 2040.
Melalui pemodelan data mutakhir, ia memperingatkan adanya ancaman serius berupa kombinasi hujan lebat dan angin kencang yang dipicu oleh kerusakan lingkungan serta faktor dinamika atmosfer.
Sumatra Menjadi Wilayah Paling Rawan
Sumatra menempati posisi pertama dalam daftar wilayah yang diprediksi akan mengalami gangguan cuaca paling parah dibandingkan pulau-pulau besar lainnya di Indonesia. Hal ini didasarkan pada analisis spasial yang memetakan potensi peningkatan intensitas cuaca ekstrem selama periode Desember hingga Februari.
“Sumatra Juara 1: proyeksi cuaca ekstrem (hujan+angin ekstrem) selama Desember–Februari, yg dilakukan oleh tim kami di BRIN, menunjukkan dalam peningkatan signifikan cuaca ekstrem hingga 2040.”
Dari pernyataan itu, ditegaskan bahwa peningkatan frekuensi cuaca buruk ini tidak hanya terjadi pada curah hujan, namun juga disertai dengan kecepatan angin yang berada di atas ambang batas normal. Peningkatan ini diproyeksikan terjadi secara konsisten dalam jangka panjang selama dua dekade mendatang.
Urutan Peringkat dan Metodologi Data
Selain Sumatra, pulau Kalimantan dan Jawa juga masuk ke dalam zona merah potensi bencana hidrometeorologi. Erma merinci bahwa kedua wilayah tersebut memiliki tingkat kerawanan yang mengikuti Sumatra berdasarkan hasil teknik ensembel model iklim.
“Peringkat 2 & 3 proyeksi cuaca ekstrem selama periode musim hujan adalah Kalimantan lalu Jawa.”
Penjelasan tersebut didukung oleh penggunaan data dari downscaling Next-GDDP CMIP6 SSP245 dengan resolusi tinggi mencapai 20km dari 14 model yang berbeda. Hasil kajian ini kini tengah berada dalam proses tinjauan di jurnal internasional untuk memastikan validitas sains yang digunakan.
Korelasi Deforestasi dan Badai Tropis
Lonjakan cuaca ekstrem di Sumatra secara spesifik disinyalir memiliki hubungan erat dengan hilangnya tutupan hutan di wilayah tersebut. Peneliti mendorong agar data cuaca ini disandingkan dengan data deforestasi untuk melihat pola kerusakan yang selaras.
“Keterangan gambar: kiri hujan ekstrem, kanan angin ekstrem. Gambar diarsir menunjukkan level confidence >90% dari data 14 model. Jika kedua komponen ekstrem berupa hujan dan angin terjadi bersamaan, maka ada indikasi cuaca ekstrem yg mengintai Sumatra berkaitan dg badai tropis.”
Berdasarkan paparan tersebut, dijelaskan bahwa tingkat kepercayaan data ini sangat tinggi, yakni di atas 90 persen. Keberadaan badai tropis yang bersinggungan dengan wilayah Sumatera memperparah risiko, terutama jika terjadi di area yang sudah kehilangan fungsi perlindungan alamiahnya akibat penggundulan hutan.
Data Pembanding Historis
Sebagai landasan analisis, tim peneliti menggunakan data historis dari rentang tahun 1991 hingga 2015. Selisih antara kondisi historis dan proyeksi masa depan inilah yang menunjukkan adanya tren peningkatan risiko yang harus segera diantisipasi oleh pemerintah maupun masyarakat.
“Data peningkatan ini setelah dikurangkan terhadap data historinya yaitu dari rentang tahun 1991-2015.”
Melalui penjelasan tersebut, ditekankan bahwa perubahan iklim saat ini telah menggeser pola cuaca secara drastis dibandingkan periode dua puluh tahun lalu. Kesesuaian antara data deforestasi dari analisis jurnalisme data dengan proyeksi ilmiah ini menjadi peringatan keras bagi upaya konservasi di Sumatra, Aceh, dan Sumatera Barat.
Sumatra Juara 1: proyeksi cuaca ekstrem (hujan+angin ekstrem) selama Desember-Februari, yg dilakukan oleh tim kami di BRIN, menunjukkan dalam peningkatan signifikan cuaca ekstrem hingga 2040. Silakan disandingkan dg data deforestasi Sumatra dari Kompas. Tampak bersesuaian? https://t.co/Wr4ta59f65 pic.twitter.com/X226tzjg3Y
— Prof. Dr. Erma Yulihastin (@EYulihastin) December 19, 2025





