BRIN: Prinsip ALARA Jadi Kunci Utama Pemanfaatan Teknologi Nuklir Aman

Redaksi Jurnalzone.id

Diterbitkan:

Prinsip ALARA dari BRIN

JURNALZONE.ID – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan peran vital proteksi radiasi sebagai landasan utama pemanfaatan teknologi nuklir yang aman bagi pekerja, masyarakat, dan lingkungan. Hal ini mengemuka dalam Kuliah Umum yang menghadirkan pakar dari Hirosaki University, Jepang, Shinji Tokonami, di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong, pada Senin (11/8) lalu.

Prinsip Utama Proteksi Radiasi

Kepala Pusat Riset Teknologi Keselamatan, Metrologi, dan Mutu Nuklir (PRTKMMN) BRIN, Heru Prasetio, menyatakan bahwa penerapan prinsip as low as reasonably achievable (ALARA) menjadi pedoman utama untuk meminimalkan paparan radiasi serendah mungkin. Menurutnya, pemahaman mengenai proteksi radiasi adalah dasar penting agar teknologi nuklir dapat dimanfaatkan secara aman.

“Topik pada kuliah umum ini membahas definisi dan pentingnya proteksi radiasi bagi kesehatan makhluk hidup dan lingkungan. Ini menjadi dasar penting agar teknologi nuklir dapat dimanfaatkan secara aman dan bermanfaat,” kata Heru.

Ia menekankan bahwa prinsip proteksi radiasi seperti waktu, jarak, dan penggunaan perisai harus didukung oleh sistem pengukuran dan teknologi yang terus diperbarui. “Masa depan teknologi nuklir bergantung pada proteksi radiasi yang kuat, metrologi akurat, dan jaminan mutu nuklir. Dengan manajemen yang baik, radiasi bermanfaat di bidang medis, industri, dan riset,” jelasnya.

Pentingnya Pengukuran Radiasi Alam

Dalam kesempatan yang sama, Professor dari Institute of Radiation Emergency Medicine (IREM), Hirosaki University, Jepang, Shinji Tokonami, menyampaikan pentingnya pengukuran radiasi alam sebagai bagian dari upaya proteksi. Radiasi alam, yang bersumber dari sinar kosmik, radionuklida terestrial, dan gas radon, menurutnya selalu ada di lingkungan dan perlu dipantau secara berkala.

“Pengukuran radiasi ini dapat bermanfaat sebagai bahan acuan untuk menilai risiko kesehatan masyarakat, memastikan kepatuhan terhadap standar International Commission on Radiological Protection (ICRP), International Atomic Energy Agency (IAEA) dan The World Health Organization (WHO),” ucap Tokonami. Manfaat lainnya adalah untuk memandu tata guna lahan di area radiasi tinggi serta memantau perubahan lingkungan jangka panjang.

Refleksi dari Insiden Nuklir Fukushima

Tokonami menggarisbawahi bahwa data pengukuran radiasi alam menjadi krusial untuk membedakan tingkat paparan normal saat terjadi kecelakaan atau aktivitas nuklir lainnya. Ia mengulas kejadian kecelakaan nuklir di Fukushima, Jepang, pada 11 Maret 2011 sebagai contoh nyata.

“Insiden nuklir tersebut menjadi pelajaran penting akan data informasi radiasi alam sebelum kejadian, kesiapsiagaan tim tanggap darurat, koordinasi antar-lembaga, dan komunikasi risiko yang jelas kepada publik,” kata Tokonami.

Ia menjelaskan bahwa respons cepat sangat vital dalam melindungi masyarakat. Segera setelah insiden, Hirosaki University mengirimkan tim pertama pada 15 Maret 2011 untuk membantu penanganan. “Kegiatan meliputi skrining kontaminasi radiasi, kunjungan rumah di zona evakuasi 20 kilometer, pengambilan sampel lingkungan (tanah, air, tanaman, udara) dan biologis (urin), serta car-borne survei paparan radiasi gamma sebelum dan sesudah kecelakaan untuk membandingkan dosis radiasi,” pungkasnya.

Ikuti kami di Google News: Follow Kami

Bagikan Berita Ini