SAINS, Jurnalzone.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan arah strategis pengembangan sektor antariksa nasional dalam forum Republic of Korea (ROK)-Indonesia New Space Seminar di Jakarta, Senin (28/7) lalu. Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) BRIN, Robertus Heru Triharjanto, menegaskan komitmen pemerintah untuk membangun ekosistem antariksa yang mandiri dan berdaya saing melalui riset, penguatan regulasi, keterlibatan industri, serta kemitraan internasional.
Visi dan Program Strategis BRIN
Dalam paparannya, Robertus Heru Triharjanto menjelaskan bahwa BRIN memiliki mandat kuat untuk memajukan teknologi keantariksaan yang diatur dalam Undang-Undang Telekomunikasi (1999) dan Undang-Undang Keantariksaan (2013). Sejumlah program strategis tengah disiapkan, termasuk pengembangan konstelasi satelit penginderaan jauh dan Internet of Things (IoT), serta pembangunan bandar antariksa (spaceport) untuk mendukung peluncuran satelit dari wilayah Indonesia.
“Kami ingin menciptakan ekosistem yang memungkinkan swasta terlibat aktif, tidak hanya dalam pemanfaatan data satelit, tetapi juga dalam pengembangan solusi hilir seperti antarmuka pengguna dan layanan informasi,” jelas Heru.
Untuk mendukung visi tersebut, BRIN juga tengah merevisi Rencana Induk Keantariksaan Nasional 2016-2040 bersama kementerian terkait dan Bappenas. Heru menegaskan, “Seluruh kebijakan ini bertujuan membuka jalan bagi pertumbuhan sektor antariksa komersial di Indonesia, sebagaimana kesuksesan sektor telekomunikasi satelit sebelumnya.”
Tawaran Kolaborasi dari Korea Selatan
Dalam forum yang sama, Direktur Hubungan Internasional Korea AeroSpace Administration (KASA), Kwanwoo Jung, menawarkan kolaborasi teknologi dan pelatihan untuk mendukung ambisi Indonesia. Korea Selatan, yang telah memiliki program ambisius dari misi ke bulan hingga eksplorasi Mars, siap berbagi pengalaman dan sumber daya.
“Kami percaya bahwa kolaborasi internasional sangat penting untuk masa depan sektor antariksa,” ujar Jung. Ia menambahkan bahwa KASA menjalankan program pelatihan internasional dan pemanfaatan data satelit berbasis AI untuk negara berkembang.
“Kami ingin membangun kapasitas lokal melalui pendekatan praktis, agar teknologi keantariksaan dapat dimanfaatkan untuk pengelolaan lingkungan, pertanian, hingga mitigasi bencana,” imbuhnya.
Ambisi Industri Antariksa Nasional
Pelaku industri nasional menyambut baik arah kebijakan pemerintah. Direktur Utama PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN), Adi Rahman Adiwoso, mengungkapkan rencana peluncuran lebih dari 75 satelit orbit ekuator pada 2026–2029 untuk layanan komunikasi, pengamatan bumi, dan IoT.
Sementara itu, Telkomsat menargetkan peluncuran sistem satelit baru pada 2028 serta merancang solusi penginderaan bumi untuk 2027. Perwakilan Telkomsat menegaskan komitmen perusahaan dalam mengembangkan solusi konektivitas berbasis satelit yang terintegrasi dengan teknologi AI dan IoT, khususnya untuk melayani sektor maritim dan kesehatan di wilayah terpencil.
Baca juga: BRIN dan CSIRO Australia Perkuat Manajemen Riset Nasional





