Jurnalzone.id – Peneliti Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas (PR BSK) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Devi Ambarwati Puspitasari, mengembangkan model analisis authorship berbasis kecerdasan artifisial (AI). Inovasi ini bertujuan untuk mengidentifikasi penulis atau pemilik teks-teks anonim sebagai bagian dari pembangunan data raya (big data) untuk linguistik forensik. Hal ini diungkapkannya dalam sebuah webinar pada Jumat (25/7).
Menurut Devi, pengumpulan data variasi bahasa menjadi fondasi penting bagi riset di bidangnya. “Kami ingin mengumpulkan data terkait variasi bahasa. Karena hal ini ternyata menjadi data yang sangat penting untuk riset linguistik forensik,” katanya.
Riset yang dimulai sejak 2023 oleh Kelompok Riset Bahasa dan Hukum ini telah melakukan pengambilan data lapangan di lokasi multilingual seperti Ibu Kota Negara (IKN), Indonesia Timur, hingga Pontianak.
Metode analisis authorship digunakan untuk memastikan keaslian tulisan dengan pendekatan komparatif, yakni membandingkan teks anonim dengan teks referensi dari penulis yang diklaim.
“Kami mengembangkan analisis authorship karena sudah punya model AI-nya. Kami bergerak menuju ke sociolinguistic profiling, yakni dengan lebih dalam menganalisis teks-teks untuk mengumpulkan dan mengidentifikasi karakteristik dari penulis,” jelas Devi.
Sejalan dengan riset ini, Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra) BRIN, Herry Jogaswara, menegaskan dukungan lembaga terhadap riset berbasis digital, khususnya korpus. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antarlembaga untuk memperkuat data.
“Saya kira kerja samanya harus diperluas dalam hal pengembangan korpus. Karena ini akan menjadi salah satu program utama kita,” ujar Herry. Ia menambahkan, kolaborasi akan membuat korpus yang dibangun semakin kuat dan dapat diakses oleh siapa saja.





