BRIN Indonesia: Teknologi dan Inovasi Jadi Motor Penggerak Ekonomi Daerah

Redaksi Jurnalzone.id

Diterbitkan:

BRIN Webinar

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menekankan pentingnya intervensi teknologi dan inovasi untuk meningkatkan daya saing Produk Unggulan Daerah (PUD) yang dihasilkan oleh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar mampu menembus pasar global. Hal ini diungkapkan dalam webinar BRIN Menyapa BRIDA (BMB) yang digelar pada Selasa (26/08).

Menurut Dadan Nugraha, Sekretaris Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, pengembangan PUD merupakan strategi krusial untuk membangun kekuatan ekonomi daerah. Pengembangan ini diharapkan dapat memanfaatkan seluruh sumber daya lokal, mulai dari sumber daya alam (SDA), sumber daya manusia (SDM), hingga budaya setempat.

Peran Teknologi dalam Peningkatan Daya Saing PUD

Dadan menjelaskan bahwa sebuah produk, baik barang maupun jasa, hampir tidak mungkin memiliki nilai tambah yang signifikan dan berdaya saing tinggi tanpa adanya sentuhan teknologi. Intervensi ini dibutuhkan dalam setiap rantai proses, mulai dari produksi, pengembangan produk, hingga proses pengiriman ke tangan konsumen.

“Oleh karena itu selalu dikaitkan dengan intervensi teknologi, hampir tidak mungkin kita bisa membuat satu produk atau jasa berdaya saing atau memberikan nilai tambah yang signifikan tanpa ada intervensi teknologi. Baik saat proses produksinya di dalam pengembangan produk maupun di dalam proses deliverinya,” ungkap Dadan.

Ia mencontohkan proses dari bahan mentah hingga menjadi barang jadi. Peluang besar bagi UMKM dan koperasi terletak pada pengolahan bahan mentah menjadi barang setengah jadi. Sementara itu, untuk menjadi barang jadi sering kali membutuhkan industri besar dengan investasi yang signifikan. Di sinilah peran teknologi dan riset menjadi jembatan penting.

“Bapak/ibu nanti di pemda, BRIDA/Balitbangda, bisa menjembatani antara kebutuhan atas teknologi tersebut dengan penghasil teknologi. Bisa juga dari universitas yang ada di daerah terdekat, atau melalui BRIN,” tuturnya.

Tantangan Kewirausahaan dan Peran Inkubator

Meskipun potensinya besar, Dadan juga memaparkan sejumlah tantangan dalam dunia kewirausahaan di Indonesia. Berdasarkan data Kemendagri per Maret 2025, rasio keberhasilan wirausaha nasional baru berada di angka 37%, atau sekitar 56 juta orang, di mana mayoritas masih berstatus sebagai pengusaha pemula.

“Ini menarik, karena tipikal kewirausahaan atau UMKM kita itu biasanya muncul ada baru lagi, muncul ada baru lagi, kalau bapak/ibu googling angka-angka ini juga seringkali sangat dinamis. Makanya kalau kita lihat yang mapan itu hanya berada di angka 4% dari 56 juta kewirausahaan, ini juga tantangan,” beber Dadan.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, ia menyoroti peran strategis inkubator kewirausahaan. Inkubator berfungsi sebagai lembaga perantara yang memberikan bimbingan, sumber daya, dan infrastruktur yang diperlukan agar bisnis baru dapat bertahan dan bersaing. Proses ini digambarkan sebagai jembatan yang menghubungkan dunia riset dengan aspek komersial untuk menghindari “lembah kematian” bagi produk inovatif.

Optimalisasi Nilai Tambah Melalui Hilirisasi

Sementara itu, R. Agus Sampurna yang mewakili Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN, menambahkan bahwa Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) atau Bapperida dapat mengoptimalkan nilai tambah PUD melalui proses hilirisasi. Menurutnya, hilirisasi dapat meningkatkan kualitas produk, efisiensi, produktivitas, hingga menciptakan lapangan kerja baru.

“Tentu tantangan hilirisasi akan sangat besar terutama jika kita ingin melakukan melalui penciptaan wirausaha baru melalui perusahaan pemula atau start up terlebih dahulu, jika perusahaan baru tersebut harus bersaing dengan perusahaan yg sudah eksis, baik itu nasional maupun asing,” ucapnya.

Oleh karena itu, kegiatan inkubasi menjadi esensial untuk memberikan pendampingan intensif bagi para perintis usaha (startup) agar mampu memperkuat daya saing mereka di pasar yang kompetitif.

Ikuti kami di Google News: Follow Kami

Bagikan Berita Ini