SAINS, Jurnalzone.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama UN Global Compact Network Indonesia (IGCN) mengumumkan pemenang kompetisi SDG Innovation Accelerator for Young Professionals (SDGI) 2025 di Jakarta, Kamis (31/7/2025). Tim dari PT Singaland Asetama keluar sebagai juara utama dengan inovasi Green Carbon Black dan berhak mempresentasikan karyanya di New York, Amerika Serikat, sebagai bagian dari upaya mendorong inovasi bisnis berkelanjutan di kalangan profesional muda.
Inovasi Pemenang dan Dukungan Riset
Inovasi pemenang, Green Carbon Black, merupakan proyek yang mendaur ulang biomassa kelapa sawit dari sampah plastik menjadi karbon hitam ramah lingkungan melalui pendekatan kolaborasi multipihak. Selain juara utama, penghargaan juga diberikan kepada lima tim inovator terbaik lainnya dari perusahaan APRIL, Jago, Pertamina, TBS, dan VALE.
Direktur Kemitraan Riset dan Inovasi BRIN, Asep Riswoko, menekankan pentingnya pendekatan saintifik dalam setiap inovasi. Menurutnya, salah satu kriteria utama adalah kemampuan ide untuk memperkuat hasil riset yang sudah ada.
“Karena kita bicara tentang inovasi, maka kita juga harus berbicara secara saintifik,” kata Asep. “Harapannya bukan cuma menghasilkan desain thinking atau circularity-nya, melainkan juga bobot dari inovasinya sendiri yang nanti bisa diperkuat dengan hasil-hasil riset yang sudah dicapai oleh perusahaan-perusahaan BRIN selama ini,” paparnya.
Baca juga: BRIN Paparkan Arah Pengembangan Sektor Antariksa Nasional
Membangun Ekosistem Inovasi Nasional
Direktur Eksekutif UN Global Compact Network Indonesia, Josephine Satyono, menjelaskan bahwa program ini bertujuan memperkuat peran sektor swasta dalam pembangunan berkelanjutan. Namun, ia menyoroti tantangan utama dalam membangun ekosistem inovasi yang kolaboratif di Indonesia.
“Saya kira tantangan kita yang utama di sini itu bagaimana negara, pemerintah, kita bersama dengan dunia usaha mengembangkan satu ekosistem untuk mendorong inovasi di mana-mana,” ujar Josephine.
Ia menambahkan, tantangan kedua adalah implementasi inovasi yang membutuhkan dukungan nyata. “Implementasi membutuhkan komitmen, dorongan, insentif dari pemerintah, juga dana, baik itu dana dari perusahaan, internasional, atau apapun. Untuk menjawab tantangan inilah, UN Global Compact dan IGCN mencoba untuk menyelenggarakan SDGI 2025,” tegasnya.
Program akselerator ini sendiri telah berjalan intensif selama delapan bulan, diikuti oleh 23 tim. Proses ini dirancang sebagai tonggak penting untuk membangun kapasitas inovasi internal di perusahaan guna menciptakan solusi yang relevan dengan tantangan nyata dan sejalan dengan strategi bisnis jangka panjang.





