BRIN-BPAFK Surakarta Perkuat Kompetensi Proteksi Radiasi

Redaksi Jurnalzone.id

Diterbitkan:

Kolaborasi BRIN dan BPAFK Surakarta

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Balai Pengamanan Alat dan Fasilitas Kesehatan (BPAFK) Surakarta memfasilitasi kunjungan teknis bagi 17 profesional muda dari 13 negara di kawasan Asia-Pasifik pada Senin (28/7) lalu. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Postgraduate Educational Course (PGEC) in Radiation Protection and the Safety of Radiation Sources yang diselenggarakan atas kepercayaan dari International Atomic Energy Agency (IAEA) untuk memperkuat kompetensi global dalam bidang proteksi radiasi.

Praktik Standar Keselamatan Internasional

Para peserta yang berasal dari Afghanistan, Bangladesh, Kamboja, Laos, Mongolia, Nepal, Filipina, Myanmar, Pakistan, Sri Lanka, Tiongkok, dan Indonesia mengunjungi BPAFK Surakarta untuk melihat langsung penerapan standar proteksi radiasi. Kepala BPAFK Surakarta, Rohmadi, menjelaskan bahwa lembaganya dipilih karena merupakan fasilitas di bawah Kementerian Kesehatan yang menerapkan sistem proteksi radiasi secara komprehensif.

“Sebagai institusi teknis yang mengelola peralatan dan bahan yang mengandung radiasi, kami menjunjung tinggi prinsip keselamatan dan kepatuhan terhadap regulasi,” ujar Rohmadi. Menurutnya, kunjungan seperti ini penting untuk menunjukkan bagaimana standar internasional diterapkan secara nyata dan membuka ruang diskusi dengan para profesional dari berbagai negara.

Selama kunjungan, peserta meninjau laboratorium Uji Kesesuaian & Proteksi Radiasi serta laboratorium Dosimetri. Mereka mengamati secara langsung prosedur keselamatan, sistem proteksi, dan peran seorang radiation protection officer (RPO) di lapangan.

Tingkatkan Kompetensi dan Jaringan Global

Kunjungan ini memberikan wawasan praktis yang mendalam bagi para peserta. Felix Anthony, salah satu peserta dari Filipina, mengungkapkan apresiasinya.

“Kunjungan teknis ke BPAFK Surakarta sangat informatif dan relevan… Pemaparan terhadap prosedur pengujian di dunia nyata memperdalam pemahaman peserta tentang bagaimana perangkat medis dikelola untuk memastikan kepatuhan, fungsionalitas, dan keamanan,” katanya. Ia menambahkan bahwa BPAFK memberikan contoh praktik terbaik yang berharga.

Plt. Direktur Pengembangan Kompetensi BRIN, Rahma Lina, menyatakan bahwa kegiatan ini memberikan pemahaman tentang manajemen keamanan di fasilitas pengguna zat radioaktif. “Interaksi ini memberikan ruang pertukaran pengetahuan, dialog, dan masukan berdasarkan praktik terbaik dari masing-masing negara asal peserta,” jelas Rahma Lina. Ia menegaskan keterlibatan BPAFK mempertegas komitmen BRIN dalam kolaborasi peningkatan kompetensi SDM iptek di level nasional maupun global.

Ikuti kami di Google News: Follow Kami

Bagikan Berita Ini