BRIN Beberkan Peta Jalan Riset Demi Kemandirian Semikonduktor Indonesia

Redaksi Jurnalzone.id

Diterbitkan:

BRIN dan Perkembangan Semikonduktor

SAINS, Jurnalzone.idBadan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan lima strategi utama untuk membangun kemandirian dan ekosistem semikonduktor di Indonesia. Langkah ini didorong oleh kesadaran akan peran vital chip semikonduktor bagi ekonomi dan kerentanan negara akibat ketergantungan pada impor, yang terbukti saat krisis chip pada masa pandemi Covid-19.

Penjelasan tersebut disampaikan oleh Natalita Maulani Nursam, Periset Pusat Riset Elektronika BRIN, dalam Konvensi Sains, Teknologi dan Industri Indonesia (KSTI) 2025 di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) ITB, Bandung, pada Sabtu (9/8/2025).

Krisis Chip sebagai Titik Balik

Natalita menegaskan bahwa semikonduktor merupakan tulang punggung perangkat elektronika modern yang menggerakkan ekonomi global. Menurutnya, pengalaman krisis beberapa tahun lalu menjadi pelajaran penting bagi Indonesia.

“Salah satu contoh fenomena yang terjadi ketika Covid-19, penjualan motor Indonesia menurun cukup drastis akibat krisis chip, karena Indonesia masih mengimpornya. Hal inilah yang menjadi dasar pemerintah Indonesia untuk lebih memperhatikannya, bagi kemandirian industri dan riset semikonduktor,” tutur Natalita.

Ia juga memaparkan bahwa negara tetangga seperti Tiongkok, Malaysia, dan Singapura telah memiliki keunggulan di sektor tertentu dalam rantai nilai semikonduktor, mulai dari pengolahan bahan baku hingga perakitan dan pengujian.

Lima Fokus Utama BRIN

Untuk mengejar ketertinggalan, BRIN telah menyusun strategi yang berfokus pada lima aspek utama. Langkah ini dirancang untuk menciptakan ekosistem riset dan industri yang kuat dan berkelanjutan.

“Saat ini posisi BRIN dalam mendukung industri dan riset terkait semikonduktor difokuskan pada lima aspek utama. Pertama, dalam hal pembangunan infrastruktur yang dipastikan dapat mendukung proses research and development di bidang semikonduktor,” jelasnya.

Strategi kedua, lanjut Natalita, adalah penerapan open platform yang memungkinkan infrastruktur riset dapat diakses secara terbuka oleh universitas, industri, dan peneliti. Tiga pilar lainnya adalah peningkatan sumber daya manusia (SDM) melalui beasiswa dan mobilitas riset, penyediaan pendanaan riset (research funding), dan penyusunan peta jalan (roadmap) riset yang terarah.

Sebagai contoh, peta jalan di Pusat Riset Elektronika difokuskan pada pengembangan divais sensor, sel surya, energy harvesting, hingga integrated circuit.

Mendorong Sinergi dan Komersialisasi

Natalita menekankan bahwa seluruh upaya ini sejalan dengan tujuan utama KSTI 2025, yaitu mendorong sinergi antarlembaga dan hilirisasi inovasi. Dengan riset yang lebih fokus, hasil yang didapat diharapkan bisa lebih optimal.

“Diharapkan dapat memfasilitasi sinergi antara lembaga riset, perguruan tinggi, industri dan pemerintah. Kemudian mendorong komersialisasi hasil riset khususnya terkait teknologi semikonduktor di Indonesia,” pungkasnya. Dari pernyataan itu, dijelaskan bahwa tujuan akhirnya adalah memetakan peluang, memperkuat kolaborasi, dan mengubah hasil riset menjadi produk komersial yang berdaya saing.

Ikuti kami di Google News: Follow Kami

Bagikan Berita Ini