BRIN-Bapanas: Riset Kolaborasi Awetkan Pangan Demi Dukung Program MBG

Redaksi Jurnalzone.id

Diterbitkan:

BRIN-BAPANAS Sinkronkan Kerja Sama Iradiasi Pangan

JURNALZONE.IDBadan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) menguatkan kerja sama dalam pemanfaatan teknologi iradiasi pangan. Pertemuan yang digelar secara daring pada Senin (1/9) tersebut membahas tindak lanjut kolaborasi untuk mendukung program ketahanan pangan nasional melalui pengawetan bahan makanan strategis.

Langkah ini diambil sebagai upaya pemerintah untuk menjamin ketersediaan pangan dan mengurangi angka kehilangan pangan (food loss) yang sering terjadi pascapanen. Kepala Pusat Riset Teknologi Proses Radiasi (PRTPR) BRIN, Irawan Sugoro, menyatakan sinergi ini bertujuan untuk mendukung kedaulatan pangan Indonesia.

Sinkronisasi Program Ketahanan Pangan

Kolaborasi antara BRIN dan Bapanas difokuskan pada sinkronisasi hasil riset dengan program-program yang dijalankan pemerintah. Irawan menjelaskan bahwa BRIN akan melakukan riset mendalam terkait berbagai komoditas pangan untuk mendukung agenda nasional.

“Kita akan mensinkronisasi, hal-hal yang dapat kita dukung terutama program yang ada di Bapanas terkait program pemerintah secara keseluruhan, yang diharapkan kita dapat berdaulat di bidang pangan,” kata Irawan.

Ia menambahkan bahwa hasil riset dari PRTPR BRIN nantinya akan diserahkan untuk dapat diimplementasikan secara luas.

“Kita akan menyampaikan hasil riset dapat digunakan untuk mendukung program yang ada di Bapanas ataupun nasional,” tuturnya.

Mengurangi Food Loss dengan Iradiasi

Dilansir dari diskusi tersebut, Direktur Perumusan Standar Keamanan dan Mutu Pangan Bapanas, Yusra Egayanti, mengungkapkan bahwa kerja sama ini telah dirintis sejak 2023. Tiga komoditas utama yang menjadi fokus awal adalah cabai, telur, dan bawang.

“Tiga komoditas yang diiradiasi antara lain cabai, telur, dan bawang. Hal ini terkait tugas dan fungsi Bapanas, yaitu pengelolaan cadangan pangan, panganekaragaman konsumsi, pengawasan keamanan dan menu pangan,” ungkapnya.

Menurut Yusra, teknologi iradiasi pangan menjadi salah satu solusi paling potensial untuk mengatasi food loss yang disebabkan oleh hama dan metode penyimpanan yang kurang optimal. Ia menegaskan bahwa teknologi ini sudah diakui secara global, termasuk oleh Codex Alimentarius, standar pangan internasional.

“Beberapa alternatif telah dilakukan untuk memperpanjang umur simpan. Tetapi, dengan teknologi iradiasi ini berpotensi memiliki umur simpan yang lebih lama,” ujarnya.

Potensi Dukung Program Makan Bergizi Gratis

Lebih jauh, Peneliti Ahli Muda PRTPR BRIN, Ashri Mukti Benita, memaparkan bahwa teknologi iradiasi juga berpotensi besar untuk mendukung program strategis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Teknologi ini dapat memastikan makanan yang didistribusikan tetap aman, segar, dan berkualitas.

“Tantangan MBG adalah memastikan makanan tetap aman, segar, dan berkualitas dari pusat distribusi hingga siap konsumsi. Termasuk meminimalkan kebusukan dan mencegah penyakit bawaan makanan,” ungkap Ashri.

Ashri menegaskan bahwa iradiasi pangan adalah teknologi yang terbukti aman dan telah diakui oleh organisasi dunia seperti FAO, WHO, dan IAEA. Prosesnya dilakukan pada produk yang sudah dikemas tanpa perlu membukanya, sehingga higienitas tetap terjaga.

Hasil Uji Coba pada Komoditas Pangan

Kerja sama yang berjalan telah menunjukkan hasil positif. Ashri menjelaskan bahwa BRIN telah berhasil melakukan iradiasi pada tiga komoditas yang menjadi fokus bersama Bapanas dengan hasil yang signifikan.

“Hasil penelitian menunjukkan iradiasi telur pada dosis 1-4 kGy tidak mengubah kuning telur tetapi bisa mengubah viskositas dan sifat fungsional. Iradiasi bawang merah pada dosis yang sangat rendah 60-150 Gy bisa digunakan untuk mencegah pertunasan,” terangnya.

“Radiasi cabai dosis rendah sampai 1 kGy dapat diaplikasikan pada produk hortikultura, secara umum untuk tujuan memperpanjang umur simpan produk segar,” pungkasnya

Ikuti kami di Google News: Follow Kami

Bagikan Berita Ini