Jurnalzone.id – Pasar aset kripto tergelincir tajam pada perdagangan Jumat (14/11/2025), setelah krisis likuiditas mendadak memicu aksi jual besar-besaran di seluruh aset digital. Bitcoin (BTC) kembali menembus level psikologis USD 98.000 (Rp 1,63 miliar), yang memicu gelombang likuidasi derivatif senilai lebih dari USD 1,1 miliar (Rp 18,37 triliun) dan menekan altcoin ke level terendah dalam beberapa bulan terakhir.
Dilansir dari Coindesk, Jumat (14/11), harga Bitcoin sempat anjlok hingga USD 95.477 (Rp 1,59 miliar). Harga kemudian terpantau bertahan di sekitar area USD 97.000 (Rp 1,62 miliar).
Tekanan jual ini terlihat sangat besar di tengah kondisi likuiditas pasar yang semakin menipis. Data menunjukkan sekitar 50% dari total likuidasi yang terjadi berasal dari pasangan perdagangan BTC.
Altcoin Terperosok ke Level Terendah
Pelemahan tidak hanya dialami oleh Bitcoin, altcoin justru terpukul jauh lebih keras. Ethereum (ETH) dilaporkan turun lebih dari 9% dalam 24 jam terakhir, diperdagangkan di sekitar USD 3.145 (Rp 52,5 juta). Level ini merupakan titik terendah ETH sejak Juli lalu.
Token-token besar lainnya seperti AAVE, JUP, dan SUI mencatat penurunan harga dua digit. AAVE bahkan anjlok ke posisi terendah sejak Mei. Indeks CoinDesk 20, yang mengukur kinerja pasar kripto secara luas, dilaporkan ambruk 8%.
Bahkan aset yang relatif dianggap defensif seperti Litecoin (LTC) ikut tertekan dengan penurunan 3%. Pelemahan di pasar kripto ini terjadi bersamaan dengan koreksi di pasar saham Amerika Serikat. Kontrak Nasdaq futures terpantau merosot 2,95%, menambah tekanan risk-off pada aset berisiko.





