Bedah Purbaya Effect: Dampak Dana Rp200 T bagi Ekonomi

Purbaya Yudhi Prabawa

Kebijakan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyalurkan dana pemerintah sebesar Rp 200 triliun ke lima bank BUMN pada Jumat (12/9/2025) terus menjadi sorotan. Pelaku pasar menganalisis kebijakan ini akan menciptakan efek berantai dalam empat tahapan yang berpotensi signifikan menggerakkan roda perekonomian nasional.

Baca juga: Dana Pemerintah Rp200 T Resmi Masuk 5 Bank Himbara

1. Bank BUMN Kebanjiran Dana Murah

Tahap pertama adalah masuknya likuiditas baru sebesar Rp 200 triliun ke dalam sistem perbankan BUMN. Meskipun bank-bank ini sejatinya memiliki likuiditas yang cukup, sebagian besar ditempatkan pada instrumen seperti Surat Berharga Negara (SBN).

Suntikan dana segar dari pemerintah ini menjadi sumber “dana murah” yang siap untuk segera disalurkan.

2. Penurunan Biaya Dana (Cost of Fund)

Dengan masuknya dana murah dalam jumlah besar, biaya dana atau cost of fund yang ditanggung perbankan secara rata-rata akan menurun.

Bank memiliki sumber pendanaan baru yang lebih efisien dibandingkan harus menghimpun dana dari sumber lain yang berbiaya lebih tinggi, seperti deposito mahal.

3. Terciptanya Era Kredit Murah

Penurunan biaya dana secara langsung akan diteruskan kepada konsumen dan pelaku usaha. Bank BUMN akan memiliki ruang lebih besar untuk menawarkan suku bunga kredit yang lebih rendah dan kompetitif.

Hal ini berlaku untuk berbagai jenis pinjaman, mulai dari kredit usaha, kredit pemilikan rumah (KPR), hingga kredit kendaraan, sehingga meringankan beban cicilan masyarakat.

4. Roda Ekonomi Berputar Lebih Cepat

Tahap terakhir adalah dampak makroekonomi. Tersedianya akses kredit murah akan mendorong peningkatan konsumsi dan investasi di sektor riil. Masyarakat akan lebih terdorong untuk melakukan pembelian besar, sementara dunia usaha akan lebih berani berekspansi.

Sektor-sektor kunci seperti properti, semen, dan ritel diprediksi akan menjadi penerima manfaat utama dari perputaran ekonomi ini.