Tekanan jual masif menghantam saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) pada perdagangan hari ini, Rabu (28/1/2026). Berdasarkan data perdagangan terakhir per pukul 16.14 WIB, saham bank swasta terbesar ini ditutup anjlok sedalam 475,00 poin atau setara 6,33% ke level Rp7.025,00 per lembar saham.
Volatilitas tinggi terlihat sepanjang perdagangan berlangsung. BBCA membuka perdagangan di angka Rp7.050,00, namun gagal mempertahankan posisi tersebut meski sempat menyentuh level tertinggi harian di Rp7.400,00.
Tekanan jual yang tak terbendung bahkan memaksa saham ini menyentuh level terendah (Low) di angka Rp6.925,00, jauh di bawah harga penutupan sebelumnya yang berada di level Rp7.500,00.
Penurunan tajam ini turut menggerus kapitalisasi pasar (Market Cap) BBCA yang kini tercatat sebesar 857,35 triliun. Kondisi pasar yang mencekam diperparah dengan keputusan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang memberlakukan Trading Halt pada Sesi II. Langkah penghentian sementara perdagangan tersebut diambil otoritas bursa setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat turun hingga 8 persen.
Koreksi dalam pada indeks komposit ini menyeret saham-saham berkapitalisasi besar (Big Caps) seperti BBCA ke zona merah. Adapun faktor utama yang menjadi pemberat pergerakan saham BBCA adalah sentimen negatif terkait MSCI yang tengah membayangi pasar modal Indonesia.
Padahal, dari sisi internal atau domestik, tidak tercatat adanya sentimen negatif fundamental yang signifikan mempengaruhi kinerja emiten.