JURNALZONE.ID – Kompleks pemakaman Astana Wukir Sirna Raga di Kabupaten Karanganyar menjadi lokasi peristirahatan terakhir bagi almarhumah yang tutup usia pada Minggu (16/11/2025).
Area pemakaman ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat memakamkan jenazah, tetapi juga menyimpan cerita mendalam mengenai perjalanan hidup dan ikatan keluarga besar Wiranto.
Arsitektur dan Kapasitas Makam
Suasana di area pemakaman tampak tenang dan tertata rapi dengan keberadaan tiga bangunan utama. Saat memasuki kompleks, pengunjung akan disambut oleh sebuah pendopo besar yang menjadi pusat dari area tersebut. Atap bangunan yang dilapisi gipsum menaungi area di bawahnya, menciptakan suasana teduh bagi para peziarah.
Di bawah naungan pendopo tersebut, telah disiapkan lahan yang diperuntukkan bagi 24 makam keluarga. Penataan ini menunjukkan persiapan matang keluarga Wiranto dalam menyediakan tempat peristirahatan yang layak dan menyatu bagi seluruh anggota keluarganya kelak.
Alasan Spiritual dan Kedekatan Tokoh
Pengelola makam, Suhud Purwadi, merupakan saksi hidup yang mengetahui detail sejarah pembangunan kompleks tersebut. Ia memahami transformasi tempat itu sejak masih berupa tanah kosong hingga berdiri megah menjadi Astana Wukir Sirna Raga seperti sekarang. Menurutnya, pemilihan lokasi ini tidak dilakukan secara sembarangan.
Dilansir dari TribunSolo.com, Suhud menjelaskan latar belakang pemilihan tempat tersebut.
“Alasan beliau memilih lokasi ini sebagai makam keluarga karena petunjuk spiritual dan ingin dekat dengan Pak Harto,” ujar Suhud, Senin (17/11/2025).
Dari pernyataan tersebut, ditegaskan bahwa faktor kedekatan emosional dan spiritual memegang peranan penting. Keinginan untuk berada di dekat makam Presiden ke-2 RI, Soeharto (Pak Harto), yang dimakamkan di Astana Giribangun—yang letaknya tidak jauh dari lokasi tersebut—menjadi salah satu pertimbangan utama Wiranto dalam menentukan lokasi makam keluarga ini.