Alat Stimulasi Otak Berbasis AI Untuk Meningkatkan Fokus

Alat Stimulasi Otak Berbasis AI

FlashNews, Jurnalzone.id – Para peneliti dari University of Surrey, University of Oxford, dan Cognitive Neurotechnology telah mengembangkan sebuah sistem stimulasi otak yang didukung kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan konsentrasi secara aman saat digunakan di rumah. Teknologi inovatif ini, yang temuannya dipublikasikan dalam jurnal npj Digital Medicine, dirancang untuk membantu individu meningkatkan fokus selama melakukan tugas yang menuntut mental seperti belajar atau bekerja.

Dilansir dari rilis University of Surrey, sistem ini menggunakan metode transcranial random noise stimulation (tRNS), sebuah teknik stimulasi listrik pada otak yang lembut dan tidak invasif. Keunggulannya terletak pada algoritma AI adaptif yang mampu mempersonalisasi intensitas stimulasi berdasarkan karakteristik unik setiap individu, seperti ukuran kepala dan tingkat perhatian awal, sehingga meniadakan kebutuhan akan pemindaian MRI yang mahal.

Dalam sebuah studi double-blind terhadap 37 partisipan, mereka yang menerima stimulasi terpandu AI menunjukkan peningkatan kinerja perhatian yang jauh lebih baik dibandingkan kelompok yang menerima stimulasi standar atau plasebo. Menariknya, peningkatan paling signifikan justru terlihat pada individu yang pada awalnya memiliki tingkat fokus lebih rendah. Studi ini juga mengonfirmasi tidak ada efek samping serius yang dilaporkan.

Profesor Roi Cohen Kadosh, Kepala Psikologi di University of Surrey sekaligus penulis utama studi tersebut, mengatakan, “Dunia modern kita terus-menerus bersaing untuk mendapatkan perhatian kita. Yang menarik dari pekerjaan ini adalah kami telah menunjukkan bahwa adalah mungkin untuk secara aman dan efektif meningkatkan kinerja kognitif menggunakan sistem yang dipersonalisasi yang dapat digunakan orang secara mandiri di rumah.”

Dari pernyataan itu, ditegaskan bahwa teknologi ini membuka jalan bagi peningkatan kemampuan kognitif yang lebih mudah diakses, adaptif, dan terukur. “Ini membuka kemungkinan baru untuk meningkatkan perhatian berkelanjutan, pembelajaran, dan kemampuan kognitif lainnya,” tambah Kadosh.