10 Pahlawan Nasional Asal Jawa Timur dan Perjuangan Besarnya

Redaksi Jurnalzone.id

Diterbitkan:

HOS Tjokroaminoto

JURNALZONE.ID – Provinsi Jawa Timur tercatat dalam sejarah sebagai daerah yang melahirkan sepuluh tokoh besar yang kini diakui sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Para tokoh ini, yang berasal dari berbagai kota seperti Surabaya, Madiun, Nganjuk, dan Sidoarjo, memiliki peran krusial di beragam sektor yang menjadi fondasi negara.

Dilansir dari berbagai rangkuman sejarah, kontribusi mereka tidak hanya vital di tingkat regional, tetapi juga membentuk jalannya pemerintahan, pendidikan, hukum, diplomasi, dan perjuangan bersenjata Republik Indonesia.

Berikut adalah profil dan kiprah sepuluh Pahlawan Nasional yang berasal dari Jawa Timur:

1. Suroso R.P.

Lahir di Porong, Sidoarjo, Suroso R.P. dikenal sebagai tokoh yang aktif menyuarakan hak-hak buruh. Ia juga merupakan pendiri Koperasi Pegawai Negeri RI. Dalam karier pemerintahannya, Suroso pernah mengemban amanah sebagai Gubernur Jawa Tengah serta menjabat menteri di tiga departemen berbeda: Menteri Tenaga Kerja, Menteri Pekerjaan Umum, dan Menteri Sosial.

2. Prof. Mr. Soenario Sastrowardoyo

Soenario Sastrowardoyo adalah tokoh hukum kelahiran Madiun. Ia meraih gelar Meester in de Rechten (Mr.) dari Universitas Leiden, Belanda. Kiprahnya di pemerintahan sangat luas, mencakup posisi sebagai Menteri Luar Negeri Indonesia, duta besar, sekaligus pengajar dan guru besar hukum internasional.

3. Dr. Soetomo

Dr. Soetomo, yang lahir di Nganjuk dengan nama asli Soebroto, merupakan pelopor pergerakan nasional. Bersama rekan-rekannya, ia mendirikan Budi Utomo pada 20 Mei 1908 dengan tujuan meningkatkan mutu pendidikan. Sebagai lulusan STOVIA, ia juga seorang dokter yang pernah bertugas menangani wabah pes di Malang dan aktif sebagai wartawan.

4. Ir. Soekarno

Dikenal sebagai Bung Karno, Presiden pertama Republik Indonesia ini lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901. Saat menempuh pendidikan di Surabaya, Soekarno muda tinggal di kediaman HOS Tjokroaminoto. Ia meraih gelar insinyur dari Technische Hooge School (THS) atau ITB dan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 1945.

5. Sutomo (Bung Tomo)

Sutomo, atau Bung Tomo, adalah ikon perjuangan dalam Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Lahir di Kampung Blauran, Surabaya, ia adalah seorang jurnalis ulung. Ia pernah menjadi wartawan lepas di Harian Soeara Oemoem dan menjabat pemimpin redaksi Kantor Berita Antara di Surabaya pada tahun 1945.

6. HOS Tjokroaminoto

Lahir di Ponorogo, HOS Tjokroaminoto adalah guru bagi para pemimpin bangsa. Lulusan Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) ini pindah ke Surabaya pada 1905. Rumahnya di Surabaya terkenal sebagai tempat kos dan pusat penggemblengan ideologi bagi tokoh-tokoh besar seperti Soekarno, Muso, dan Tan Malaka.

7. Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo

Tokoh kelahiran Magetan ini tercatat dalam sejarah sebagai Gubernur pertama Jawa Timur, yang menjabat pada periode krusial 1945-1948. Lulusan STOVIA ini dikenal sebagai pribadi yang tegas dan berani, serta sebelumnya pernah menjabat sebagai Bupati Magetan dan Residen Bojonegoro.

8. Moestopo

Moestopo lahir di Ngadiluwih, Kediri, dan dikenal sebagai dokter gigi sekaligus tokoh pendidikan. Ia merupakan salah satu dokter gigi bumiputra pertama di Indonesia, lulusan School tot Opleiding van Indische Tandartsen (STOVIT) di Surabaya. Namanya kini diabadikan sebagai nama Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) di Jakarta.

9. Roeslan Abdulgani

Roeslan Abdulgani, yang akrab disapa Cak Roes, lahir di Surabaya dan dikenal sebagai seorang diplomat ulung. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, Menteri Penerangan, dan Menteri Komunikasi. Ia juga produktif menulis buku sejarah, salah satunya adalah “The Bandung Connection”.

10. Ernest Douwes Dekker (Danudirja Setiabudhi)

Lahir di Pasuruan, Ernest Douwes Dekker adalah seorang wartawan keturunan Belanda-Jerman yang gigih memperjuangkan nasionalisme. Kontribusi besarnya adalah di bidang pendidikan, di mana ia mendirikan Nationaal Indische School (NIS) di Bandung dengan tujuan memberikan pendidikan nasional yang mandiri bagi kaum bumiputra.

Ikuti kami di Google News: Follow Kami

Bagikan Berita Ini